top of page

Program & Dampak //

Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV menerjemahkan visi dan strategi ke dalam berbagai inisiatif konkret yang mendorong perubahan kebijakan, penguatan layanan, serta peningkatan kesadaran publik. Seluruh kegiatan dilakukan secara kolaboratif bersama anggota, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun daerah.

Program Utama //

20230530_095536.jpg

1. Advokasi Kebijakan

Aliansi secara aktif mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan anak dan remaja dengan HIV. Upaya ini dilakukan melalui dialog kebijakan, konsultasi nasional, penyusunan rekomendasi, serta keterlibatan dalam proses perencanaan strategis pemerintah.

Beberapa capaian penting meliputi:

  • Peluncuran Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV (Desember 2022)

  • Pertemuan Pre-Konsultatif dan Konsultatif Nasional untuk membahas isu prioritas anak dengan HIV (2023)

  • Kontribusi dalam memasukkan anak yang lahir dari ibu dengan HIV dan anak dengan HIV ke dalam populasi sasaran draft Rencana Aksi Nasional HIV 2025–2030

  • Usulan penguatan layanan hepatitis ramah anak dalam Review Program Hepatitis Indonesia (2024)

WhatsApp Image 2026-02-11 at 3.12_edited.jpg
IMG_20250729_094957_edited.jpg

2. Peningkatan Kesadaran & Dialog Publik

Aliansi menyelenggarakan berbagai forum diskusi dan ruang refleksi untuk memperluas pemahaman tentang isu anak dan remaja dengan HIV, sekaligus menekan stigma dan diskriminasi.

Inisiatif yang telah dilakukan antara lain:

  • Simposium EMTCT pertama di Indonesia dengan 115 peserta dari unsur pembuat kebijakan, peneliti, tenaga kesehatan, dan komunitas (November 2023)

  • Seri Diskusi Kultural bersama PPH UNIKA Atma Jaya (2024) yang membahas pengobatan, stigma, pengasuhan, dan perawatan anak dengan HIV

  • Peningkatan kapasitas pelaku rawat melalui Treatment Literacy Workshop, didukung oleh UNICEF Indonesia

IMG_1504_edited.jpg
CLOSING POSTER.png

3. Kolaborasi Multisektoral

Aliansi berperan sebagai jembatan antara komunitas, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk memastikan isu anak dengan HIV mendapat perhatian lintas sektor.

Beberapa kolaborasi penting:

  • Diskusi multisektoral dan lokakarya advokasi bersama Kementerian Kesehatan, IDAI, akademisi, dan komunitas (2024)

  • Kolaborasi Program Child-Life bersama Indonesia AIDS Coalition dengan dukungan Aidsfonds (2024–2025)

4. Penguatan Internal

Untuk memastikan keberlanjutan kerja advokasi, Aliansi juga melakukan penguatan kapasitas internal melalui penyusunan SOP, rencana kerja, serta strategi advokasi bersama.

Salah satu langkah penting adalah pelaksanaan Retreat Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV (Desember 2024) untuk finalisasi rencana kerja dan penguatan koordinasi antar anggota.

Dampak & Perubahan yang Didorong //

Kerja kolektif Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV tidak hanya menghasilkan rangkaian kegiatan, tetapi juga mendorong perubahan dalam cara isu anak dan remaja dengan HIV dipahami, dibahas, dan diposisikan dalam kebijakan publik.

1. Pengakuan yang Lebih Jelas dalam Kebijakan Nasional

Melalui keterlibatan dalam forum konsultatif dan proses penyusunan dokumen strategis, isu anak yang lahir dari ibu dengan HIV serta anak yang hidup dengan HIV mulai diakomodasi secara lebih eksplisit dalam perencanaan respons HIV nasional, termasuk dalam draft Rencana Aksi Nasional HIV 2025–2030. Hal ini menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan anak tidak lagi terserap dalam kategori umum tanpa pendekatan yang spesifik.

2. Penguatan Perspektif Layanan Ramah Anak

Advokasi yang dilakukan turut mendorong diskusi mengenai pentingnya ketersediaan layanan kesehatan yang komprehensif dan ramah anak, termasuk deteksi dini pada bayi atau Early Infant Diagnosis (EID), ARV ramah anak, serta integrasi isu hepatitis dalam layanan untuk anak dengan HIV. Isu-isu ini semakin mendapat perhatian dalam ruang dialog kebijakan dan forum teknis.

3. Terbukanya Ruang Dialog Multisektoral

Melalui simposium, diskusi kultural, dan lokakarya advokasi, Aliansi mempertemukan pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas dalam satu ruang yang setara. Forum-forum ini memperkuat pemahaman bersama bahwa isu anak dengan HIV memerlukan pendekatan lintas sektor—tidak hanya kesehatan, tetapi juga pendidikan, perlindungan sosial, dan hak asasi manusia.

5. Peningkatan Kesadaran Publik dan Sensitivitas terhadap Stigma

Seri Diskusi Kultural dan berbagai forum publik membantu memperluas narasi tentang anak dan remaja dengan HIV—tidak hanya sebagai penerima layanan, tetapi sebagai subjek dengan hak dan suara. Pendekatan ini mendorong cara pandang yang lebih empatik dan berbasis hak, serta memperkuat agenda penghapusan stigma dan diskriminasi.

4. Penguatan Jejaring Nasional yang Terkoordinasi

Dengan anggota yang tersebar di 20 provinsi, Aliansi berkontribusi pada terbentuknya jejaring advokasi yang lebih terhubung dan saling mendukung. Koordinasi lintas wilayah memungkinkan pertukaran praktik baik, konsolidasi pesan advokasi, serta respons yang lebih cepat terhadap isu-isu kebijakan yang berkembang.

Ke depan, Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV akan terus memperkuat advokasi berbasis bukti dan pengalaman komunitas untuk memastikan perubahan kebijakan diikuti oleh perubahan praktik di lapangan, sehingga anak dan remaja dengan HIV benar-benar dapat hidup sehat, aman, dan bermartabat.

© 2026 by Aliansi Nasional untuk Anak dengan HIV

bottom of page